Pada
bulan juni 2018 tepatnya di minggu ketiga bulan itu, kepala divisi caving yaitu
rafi berkesempatan mengikuti kegiatan explorasi dan pemetaan goa di wilayah
kabupaten lamongan, kegiatan ini di inisialisasi oleh teman-teman caving jawa
timur yang ingin mengadakan caving ceria dan pada saat itu sabhagiriwana’17
berkesempatan mengikuti kegiatan tersebut dengan di wakili oleh sodara rafi
yang berasal dari lamongan juga, kebetulan pada saat itu masih masa-masa
liburan idul fitri jadi kami bisa berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Kegiatan
ini dimulai pada hari selasa dan berakhir pada hari rabu dini hari.
Pagi
hari di hari selasa saya pun berangkat menuju ke kampus unisla lamongan yang
terletak di tengah kota lamongan yang berjarak kurang lebih 30 km dari rumah
saya dengan menggunakan sepeda motor,sesampai disana saya langsung naik ke
gedung depan parkiran tempat saya memarkirkan motor dan menuju ke lantai paling
atas dengan tujuan basecamp mapala jemapala milik unisla lamongan, pada saat
itu telah berkumpul beberapa orang dari mapaus Surabaya, dari stimbara gresik,
stikmapala lamongan, serta tentunya dari jemapala itu sendiri, satu persatu
orang saya salami dan saling berkenalan satu sama lain, karena memang saat itu
kami masih belum saling mengenal, beberapa saat kemudian datang lah teman lagi
dari sispala acarina tuban dengan membawa sebuah drybag berisi peralatan
caving, selang beberapa menit kemudian datanglah anggota dari mapalsa Surabaya,
anggota dari organisasi wwf Indonesia serta wartapala Indonesia setelah semua
peserta sudah datang lanjutlah kami mengeluarkan semua peralatan yang di bawah
untuk segera di ceklist dan dibagi, saat itu sabhagiriwana’17 membawa alat
pemetaan goa sebanyak 2 set, setelah semua diceklist kami pun membagi tugas
untuk mengecek kondisi peralatan yang dibawa oleh teman-teman dan memilih
peralatan yang dinyatakan layak pakai untuk kegiatan caving kali ini, karena
menurut informasi dari teman-teman jemapala bahwa goa yang akan kami masuki
nanti adalah goa yang telah lama menghilang karena di tutup oleh semak-semak
tinggi berduri dengan medan medan batu karang tajam kanan kiri dinding goa
dengan kontur tanah menurun ke bawah tanah, setelah sekitar 30 menit mengecek
dan menceklist peralatan akhirnya kami pun sudah siap untuk berangkat menuju
kelokasi dengan membawa 12 set caving, dengan tambahan 1 set srt untuk
kebutuhan apabila goa yang kami cari dapat kami temukan dari sisi vertical,
karena menurut pengakuan warga goa tersebut adalah goa tembus yang bisa juga
diakses secara horizontal maupun vertical. Sekitar pukl 10.00 wib akhirnya kami
memulai perjalanan menuju ke lokasi goa dengan melewati kawasan hutan jati
menuju ke utara atau kea rah wisata bahari lamongan, dengan ditempuh perjalanan
menggunakan motor kurang lebih 1 jam akhirnya kami sampai di rumah anggota dari
jemapala yang berlokasi tidak jauh dari goa yang akan kami cari tersebut,
setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju ke goa dengan medan batu karang
tajam dengan panorama perkebunan kering di samping kiri jalan dan panorama
tebing dan gunung kapur yang berada di samping kanan jalan, sekitar 10 menit
kami berkendara akhirnya kami telah sampai di sebuah tanah lapang tempat
terakhir parkir motor dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki sekitar 100
meteran, akhirnya kami memutuskan untuk menaroh peralatan di sekitaran tanah
lapang tersebut dibawah pohon papaya sambil menyiapkan sarapan pagi untuk
mengisi tenaga sebelum berkegiatan dengan menu nasi boranan, nasi khas
lamongan, setelah itu kami pun segera mengenakan set caving yang terdiri dari
helm, sepatu boot, headlamp, cover all untuk selanjutnya kami di bagi menjadi
dua tim yang terdiri dari 7 orang per team untuk melakukan penyisiran kebetulan
saat itu saya menyisir sisi utara tempat kami istirahat tadi dan yang lain
menuju ke arah selatan, kami berjalan kurang lebih 15 menitan akhirnya kami
menemukan goa yang kami cari yang tertutup oleh rimbunan rumput ilalang yang
tinggi dan segera pun kami membersihkan ilalang tersebut dan mengambilii semua
sampah yang menutupi jalan menuju ke mulut goa, namun saat kami telah membuka
goa tersebut terlihat beberapa benda mencurigakan dimana benda tersebut adalah
sebuah wadah tempat sesajen entah itu benar atau tidaknya tapi menurut
pengakuan warga memang goa tersebut sering di gunakan untuk bersemedi. Setelah kami
berhasil menemukan goanya, kami kembali menuju ke tempat yang kami gunakan
untuk berteduh tadi untuk beristirahat dan menyiapkan set pemetaan goa dan membagi
lagi team dengan memilih siapa yang siap untuk mengawali pemetaan, dan saat itu
saya langsung mengangkat tangan memberi pertanda bahwa saya siap, dan akhirnya
saya terpilih dengan 5 orang lainnya dan saya berkesempatan menjadi leader,
tanpa bertanya saya beserta 5 orang yang lain segera menuju ke goa kembali
dengan membawa set pemetaan tadi sementara 5 orang lainnya masuk ke goa lainnya
untuk pemetaan juga sehingga 2 orang lainnya tidak ikut masuk karena bertugas
sebagai pengawas untuk mengantisipasi aapabila terjadi hal-hal apa di dalam goa
baik gempa maupun yang lain, titik stasiun pertama yang bikin saya pilih sangat
membingungkan karena goa berkontur vertical namun tidak curam-curam amat satu
persatu areal telah saya jajaki hingga akhirnya pada titik stasiun ke 10
akhirnya titik lubang vertical yang kami cari akhirnya ketemu dan kami
langsung menghubungi satu orang teman
yang menjaga diatas tadi untuk mencari permukaan lubang tersebut dari atas
tanah, namun ternyata lubang goa tersebut telah tertutupi oleh rerumputan
tinggi, sehingga perlu di bersihkan, setelah itu kami melanjutkan kegiatan
pemetaan goa hingga akhir dengan total 24 titik stasiun dengan panjang goa
mencapai 90-110 meteran dengan lebar 7 meteran, namun saat sampai di titik
mulut yang lain kami dihadapi oleh permasalahan yaitu mulut goa tertutup oleh
semak belukar tinggi sehingga kami harus membersihkan kembali dengan
menggunakan parang dan setelah itu kami satu persatu keluar keluar goa dan
menuju ke lubang vertical tadi yang telah kami temukan dan kembali membersihkan
ilalangnya dengan menggunakan parang, tanpa terasa waktu telah menunjukan pukul
15.00 wib kami pun segera naik kembali menuju tempat berteduh dan beristirahat
setelah beristirahat sambil packing alat sekitar 30 menit kami melanjutkan
perjalanan menuju ke goa kedua yang berada tidak jauh dari pelabuhan
lamongan,sekitar 15 menit kemudian akhirnya kami telah sampai di mulut goa
namun waktu kami sampai di sana saya pun bertanya-tanya dimana goa nya karena
salah satu dari teman bilang kalo kita sudah sampai di lokasi goa kedua,
ternyata goanya berada di balik rimbunan rumput pendek jadi tidak terlihat
hanya terlihat rerumputan kering saja di situ tapi ternyata di bawah rumput
tersebut terdapat sebuah goa, walaupun saat itu waktu telah menunjukan pukul
16.00 namun matahari sangat menyengat sehingga membuat saya begitu kepanasan
ditambah lagi suasana lokasi yang tandus bah seperti di daerah padang savanna yang
kering, setelah itu kami pun akhirnya masuk kedalam goa dengan menggunakan
bantuan tali webbing secara bergantian, namun saat kali pertama dari kami yang
masuk tiba-tiba seekor ular yang cukup besar menyambut kami dan segera lari
menuju balik batu-batuan, konon menurut warga memang goa tersebut merupakan
habitat ular besar jadi kami harus berhati-hati, di goa ini kami tidak
melalukan pemetaan karena keterbatasan waktu, konon menurut warga goa ini
bernama goa angina-angin yang memiliki 3 lantai dengan lantai paling bawah
berada di dalam laut yang berada di samping goa, aura sejuk saya rasakan
didalam goa tetesan air dari stalakmit ataupun stalaktit menyejukan mata namun
saya harus tetap hati-hati karena goa ini begitu tipis kandungan oksigennya,
bukan karena banyaknya guano atau apa melainkan karena dalamnya goa ini
menjurus kebawah tanah menjadi penyebabnya, sekitar 30 menit saya menyusuri goa
tersebut akhirnya saya telah sampai di pintu goa lantai 2 dengan ditandai medan
turunan yang begitu curam yang mengarah ke bawah dengan bantuan tali webbing
yang di ikatkan di sebuah batu dekat pintu akhirnya kami dapat masuk ke lantai
dua goa atau satu lantai di bawah lantai tiga sebelumnya, kami terus menyusuri
goa tersebut dengan suasana yang begitu menajubkan dan mencengkam karena jika
kami salah pinjak kami bisa saja terjen ke lantai 1 goa atau lantai goa
terdasar yang belum pernah di hitung berapa tingginya, kami terus berjalan
dengan menggunakan tali webbing dengan tujuan agar lebih meminimalisir
kecelakaan, goa semakin jauh semakin turun ke bawah dan semakin sempit, udara
juga semakin lama kami berjalan juga semakin jarang sehingga untuk melanjutkan
perjalanan menuju ke lantai dasar hanya kami ber lima salah satunya saya yang berani turun menuju ke lantai dasar goa,
hal ini dikarenakan lokasi goa yang
licin, sempit, terjal dan juga udara yang begitu tipis, kami berlima pun terus
melanjutkan perjalanan hingga akhirnya kami sampai ke pintu goa lantai dasar
sama halnya dengan pintu goa lantai 2 kami menggunakan tali webbing untuk turun
ke lantai dasar, suasana pengap, panas, oksigen menipis dengan tetesan air dari
atap goa yang berasa asin menandakan bahwa goa ini telah berada di bawah air walau
belum sebegitu dalam kami berlima mencoba mencari ujung goa yang katanya berada
ditebing samping laut, namun sekitar 10 menit kami berjalan di dasar goa kami
memutuskan untuk kembali keatas karena kabar dari 2 orang teman yang menjaga
dimulut goa, cuaca diatas telah mendung dan mulai turun hujan sehingga kami
harus segera kembali ke permukaan untuk mengantisipasi adanya hal-hal yang
tidak di inginkan, tetap dengan mengunakan tali webbing kami berjalan dengan
berhati-hati menuju ke pintu goa 1,2,3 dan akhirnya 30 menit kemudian kami
telah sampai di mulut goa, benar apa kata teman saya tadi bahwa cuaca di atas
telah hujan lebih deras lagi, syukurlah kami bisa kembali dengan selamat.
Ini
pengalaman yang begitu berharga bagi saya, untuk pertama kalinya saya
menelusuri sebuah goa yang begitu indah tapi menakutkan, hal ini yang membuat
saya lebih bersemangat lagiuntuk belajar ilmu caving.